Alat musik tradisional Sulawesi Barat yang Menarik

Alat Musik Tradisional Propinsi Sulawesi

Alat Musik Tradisional Propinsi Sulawesi

Alat musik tradisional Sulawesi Barat – Kecapi Mandar

Kecapi Mandar atau dimaksud juga kacaping tobaine yakni alat musik tradisional yang datang dari Poliwali Mandar. Bentuk kecapi mandar ini sepintas seperti miniatur perahu. Di buat dari kayu serta mempunyai 2 dawai.

Kecapi Mandar ini sangatlah langka serta sekarang ini cuma ada 2 orang yang masihlah memainkannya yakni Satuni serta kakak perempuannya, Marayama, yang berumur sekitaran 81 th..

Awalannya kecapi Mandar dimainkan untuk ” pelipur lara ” untuk individu di beberapa tempat tinggal, lalu berkembang jadi hiburan untuk acara-acara sunatan serta perkawinan. Kecapi dimainkan dari tempat tinggal ke tempat tinggal, lorong ke lorong.

Untuk lagunya, ada tiga topik besar yang dibawakan, yakni Tolo (yang diisi narasi kepahlawanan), Tere (nyanyian pujian pada orang), serta Masala (nyanyian religi). Uniknya, lirik yang dibawakan tak terbatas. Pemain kecapi dapat spontan bikin lirik berdasar pada apa yang dia saksikan saat tampak atau sesuai dengan topik acara.

2. Alat musik tradisional Sulawesi Barat – Pakkeke
Pakkeke yaitu satu diantara alat musik tiup tradisional Mandar yang memiliki kekhasan, yakni terkecuali dari memiliki bentuk, keke juga mempunyai kekhasan bunyi yang dibuat. Alat musik keke terbuat dari bambu yang memiliki ukuran kecil yang diujungnya ada daun kelapa kering yang dililitkan sebagai pembawa dampak bunyi yang dibuat oleh alat ini.

Umumnya alat tiup tradisional type keke ini dimainkan di sawah atau di ladang punya warga untuk isi kesepian beberapa petani waktu menunggui ladang atau sawah mereka. Saat ini alat musik keke seringkali dimainkan untuk kebutuhan seni pertunjukan serta dipadukan dengan alat musik tradisional yang lain.

3. Alat musik tradisional Sulawesi Barat – Calong

Calong yaitu alat musik tradisional yang memiliki bahan basic Buah Kelapa serta bambu. Umumnya alat musik Calong ini dimainkan dengan cara solo, namun dalam perubahannya alami perkembangan serta bisa dimainkan dengan cara massal.

Hal semacam ini bisa tampak pada pagelaran Musik Calong Massal yang dipersembahkan pada Pembukaan Minggu Berolahraga Propinsi Sulawesi Barat Awal yang dikerjakan di Kabupaten Polewali Mandar th. 2007. Bahkan juga yang tidak kalah menariknya kalau alat musik inipun mulai dipadukan dengan sebagian alat musik yang lain. Calong seringkali juga diusung ke atas panggung pementasan musik dengan cara kolaboratif.

4. Alat musik tradisional Sulawesi Barat – Gongga Lima

Gongga lima yaitu satu alat musik yang di buat dari bambu, termasuk juga klasifikasi alat musik idiopon. Alat musik Gongga Lima dibunyikan lewat cara dipukulkan ke tangan.

Dengan cara bhs, alat musik gongga lima terbagi dalam dua suku kata, yaitu Gongga serta lima. Gongga disimpulkan sebagai alat tersebut sedang lima dalam bhs Mandar yaitu Tangan, bila diliat dari pambagiannya, begitu memperjelas jati diri dan eksistensinya yang menerangkan kalau ke duanya memerlukan keduanya.

Type Gongga lima ada diwilayah balanipa nyaris sama juga dengan alat musik parappasa dari Gowa Sulawesi Selatan, ketidaksamaan Parappasa dengan Gongga lima bisa diliat dari tampilan alat itu, dalam membuatnya bambu dibelah-belah kecil yang ukuran bilahannya nyaris sama besar dengan pensil hingga dalam penampilannya mirip sapu lidi, langkah memainkannyapun berbeda dengan Gongga lima, sebab saat dimainkan alat ini dibenturkan kebenda lain untuk memperoleh bunyi.

5. Alat musik tradisional Sulawesi Barat – Rebana/Riskana

Rebana yaitu alat musik tradisional orang-orang Sulawesi Barat yang termasuk juga dalam type alat musik membrapon, yakni musik itu memakai kulit sebagai sumber bunyi atau selaput tidak tebal yang direntangkan. (Solihing, Ibid : 95).

Rebana dalam bhs Sulawesi Barat dimaksud dengan riskana, sedang dalam bhs Arab dimaksud Lafud. Kemunculannya sebagai alat musik tradisional adalah penggabungan budaya pada budaya Arab serta budaya Mandar. Sekitaran era ke 17 waktu lalu atau jaman pemerintahan raja Mandar yang ke IV Daetta, anak awal dari raja ke II Tomeppayung, Cucu Raja Mandar I Imanyambungi (Todilaling). Lokasi ini jadi satu diantara tujuan untuk membuat satu memahami yang konon yaitu memahami melawan animisme atau jaman penyembahan berhala, dampak itu tak lain bila bukanlah dampak budaya Arab, (Ibu Cammana, 31 juli 2003

Sekian Sahabat kebiasaan, 5 alat musik tradisional Sulawesi Barat. Mudah-mudahan berguna. sumber : http://hargaalatmusik.info/11-alat-musik-tradisional-provinsi-sulawesi-berserta-penjelasan/